AKU
Selamat pagi ! Pagi yang cerah dan udara terasa sejuk, burung berkicau indah
sekali. Kecuali untukku, pagi yang seharusnya terasa indah malah menjadi momok
untukku. Sepagi ini sudah ada saja suara piring pecah, hentakan keras, tangisan
mama yang membuat ngilu. Apa aku peduli?
Tidak kataku.
Sebelumnya aku peduli. Peduli atas mama yang dijajah oleh papa setiap hari. Peduli akan papa yang entah mengapa selalu merasa puas setelah bertengkar dengan mama. Hingga kejadian semalam membuatku berhenti untuk peduli. Mama menamparku ketika aku membelanya. Papa mendorongku ketika aku mencoba menghentikannya. Aku marah. Aku lelah. Aku penat. Aku Nayla dan aku mencoba untuk tidak peduli.
Sekarang, aku berencana pergi. Aku ingin bersenang-senang entah bagaimana caranya. Aku mengendap-endap pergi. Mama dan papa masih saja bertengkar. Apa mereka tidak lelah ? Aku tidak mengira akan semudah ini keluar dari rumah. Aku berjalan tanpa arah. Mengitari kompleks mencari sesuatu yang menarik. Perlu digaris bawahi bahwa aku tidak membawa apapun selain baju yang aku kenakan. Gila bukan ?
Setelah lama berkeliling aku bertemu dengan seorang gadis kecil. Gadis itu tampak kesepian. Kupikir tak akan jadi masalah dengan mendekatinya. Lagi pula kami sama-sama kesepian.
“Hai gadis manis,” sapaku memasang senyum selebar-lebarnya.
Anak itu menoleh. Reaksi tatapannya cukup janggal.
Mungkin dia tidak mengenaliku karna aku tetangga baru disini.
“Kakak siapa ?” tanyanya gugup. Tanganku menawarkan berjabat dengannya. Dia menatap mataku. Tidak membalasnya. Oke. Bukan salahnya kalau dia tidak mau berjabat tangan dengan orang asing. Itu kebiasaan yang baik.
“Namaku Nayla. Aku baru pindah dari Bogor. Semoga kita bisa bertetangga dengan baik,” kataku sambil duduk disebelahnya.
“Kenapa kakak pergi ?” tanyanya tiba-tiba. Matanya menatap manik-manik ku tajam. Aku tersenyum kecut dan begitu saja menceritakan kepenatanku padanya. Gadis 10 tahun yang berbeda 7 tahun denganku. Aku memang sudah benar-benar gila sekarang.
Sepuluh menit berlalu. Anak itu tidak seburuk yang aku kira. Seorang ibu paruh baya mendekati kami. Anak itu menghambur di pelukannya. Ibunya ditarik untuk dibisiki entah apa. Ibu itu mencuri tatap padaku.
“Kak, ayo kita main !” ajak gadis kecil itu.
Hari itu aku senang sekali. Anak kecil yang ku
ketahui bernama Anya. Tadi mengajakku mengitari Kota Magelang. Ke alun-alun,
Artos, Kyai Langgeng, dan tempat-tempat rekreasi lain di Kota Magelang. Memang
keluarganya aku akui sangat pendiam. Nyaris tidak ada yang mereka ucapkan
padaku. Hanya tersenyum kasihan. Mungkin Anya memang bercerita dengan mereka.
Tak apalah, toh itu memang kenyataannya.
“Kak, habis ini kita ke rumah kakak ya ?” ajaknya menggoda.
“Ah tidak usah dik, aku bisa pulang sendiri,” kataku menolak mentah-mentah ajakannya.
“Sudah sampai non Anya,” sela supir didepan kami.
“Tunggu! Ini rumah aku. Untuk apa kami kemari ?”
Kedua orang tua gadis itu mendahului kami. Aku masih berdiri agak jauh dari rumah. Menatap wajah kedua orang tuaku dengan penuh kebencian. Mereka membukakan pintu lebar-lebar untuk tamu kali ini dengan senyum palsu keluarga bahagia yang mereka miliki. Ihhh ! Aku muak melihatnya.
Anya berlari meninggalkanku menuju ke dalam. Tangannya memberitahuku untuk mengikutinya. Aku mengekor saja tanpa peduli sekitar. Anya sampai di depan kamarku. Di belakangku sudah ada mama, papa, beserta keluarga Anya. Mama dan papa menatap emosi. Papa melewatiku dan mengeluarkan kunci cadangan kamarku dan membukanya. Ah ! Aku benar-benar tidak dia anggap disini. Mama lari menuju kamar. Siapa sangka mama begitu saja berteriak kencang sambil menutup mulutnya. Papa ikut masuk dan memeluk mama yang histeris. Drama macam apa ini ?
“Ayo kakak juga masuk. Kita pulang !” kata Anya dengan wajah polosnya. Aku mengangguk mengiyakan. Lagi pula aku juga penasaran apa yang terjadi didalam.
Wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar. Busa di mulutnya masih samar membekas. Wajahnya pucat pasi. Mulutnya menganga mengenaskan. Dan buruknya lagi dia adalah aku.
“Nay ! Jangan tinggalkan mama Nay ! maafkan mama dan papa Nay,” wanita paruh baya itu menggoyangkan tubuh kaku di hadapannya.
“Bagaimana kalian bisa tahu ?” Tanya papa emosi pada kedua orang tua Anya.
“Anak kami adalah seorang indigo. Dia bisa melihat
seorang yang tidak hidup anak kami merasa kasihan pada Nayla karena selain broken home Nayla
adalah korban bunuh diri yang bahkan tidak sadar akan keadaanya,”
Ya, terima kasih.
BalasHapusBagian pembuka yang ceria kontradiktif dengan isi cerita. Hal ini tidak biasa dan hampir dihindari oleh sebagian penulis.