Kamis, 05 Januari 2017

Ujian praktik tertulis

AKU
Selamat pagi ! Pagi yang cerah dan  udara terasa sejuk, burung berkicau indah sekali. Kecuali untukku, pagi yang seharusnya terasa indah malah menjadi momok untukku. Sepagi ini sudah ada saja suara piring pecah, hentakan keras, tangisan mama yang membuat  ngilu. Apa aku peduli? Tidak kataku.

Sebelumnya aku peduli. Peduli atas mama yang dijajah oleh papa setiap hari. Peduli akan papa yang entah mengapa selalu merasa puas setelah bertengkar dengan mama. Hingga kejadian semalam membuatku berhenti untuk peduli. Mama menamparku ketika aku membelanya. Papa mendorongku ketika aku mencoba menghentikannya. Aku marah. Aku lelah. Aku penat. Aku Nayla dan aku mencoba untuk tidak peduli.

Sekarang, aku berencana pergi. Aku ingin bersenang-senang entah bagaimana caranya. Aku mengendap-endap pergi. Mama dan papa masih saja bertengkar. Apa mereka tidak lelah ? Aku tidak mengira akan semudah ini keluar dari rumah. Aku berjalan tanpa arah. Mengitari kompleks mencari sesuatu yang menarik. Perlu digaris bawahi bahwa aku tidak membawa apapun selain baju yang aku kenakan. Gila bukan ?

Setelah lama berkeliling aku bertemu dengan seorang gadis kecil. Gadis itu tampak kesepian. Kupikir tak akan jadi masalah dengan mendekatinya. Lagi pula kami sama-sama kesepian.

“Hai gadis manis,” sapaku memasang senyum selebar-lebarnya.
Anak itu menoleh. Reaksi tatapannya cukup janggal. Mungkin dia tidak mengenaliku karna aku tetangga baru disini.

“Kakak siapa ?” tanyanya gugup. Tanganku menawarkan berjabat dengannya. Dia menatap mataku. Tidak membalasnya. Oke. Bukan salahnya kalau dia tidak mau berjabat tangan dengan orang asing. Itu kebiasaan yang baik.

“Namaku Nayla. Aku baru pindah dari Bogor. Semoga kita bisa bertetangga dengan baik,” kataku  sambil duduk disebelahnya.

“Kenapa kakak pergi ?” tanyanya tiba-tiba. Matanya menatap manik-manik ku tajam. Aku tersenyum kecut dan begitu saja menceritakan kepenatanku padanya. Gadis 10 tahun yang berbeda 7 tahun denganku. Aku memang sudah benar-benar gila sekarang.

Sepuluh menit berlalu. Anak itu tidak seburuk yang aku kira. Seorang ibu paruh baya mendekati kami. Anak itu menghambur di pelukannya. Ibunya ditarik untuk dibisiki entah apa. Ibu itu mencuri tatap padaku.

“Kak, ayo kita main !” ajak gadis kecil itu.
Hari itu aku senang sekali. Anak kecil yang ku ketahui bernama Anya. Tadi mengajakku mengitari Kota Magelang. Ke alun-alun, Artos, Kyai Langgeng, dan tempat-tempat rekreasi lain di Kota Magelang. Memang keluarganya aku akui sangat pendiam. Nyaris tidak ada yang mereka ucapkan padaku. Hanya tersenyum kasihan. Mungkin Anya memang bercerita dengan mereka. Tak apalah, toh itu memang kenyataannya.

“Kak, habis ini kita ke rumah kakak ya ?” ajaknya menggoda.

“Ah tidak usah dik, aku bisa pulang sendiri,” kataku menolak mentah-mentah ajakannya.

“Sudah sampai non Anya,” sela supir didepan kami.

“Tunggu! Ini rumah aku. Untuk apa kami kemari ?”

Kedua orang tua gadis itu mendahului kami. Aku masih berdiri agak jauh dari rumah. Menatap wajah kedua orang tuaku dengan penuh kebencian. Mereka membukakan pintu lebar-lebar untuk tamu kali ini dengan senyum palsu keluarga bahagia yang mereka miliki. Ihhh ! Aku muak melihatnya.

Anya berlari meninggalkanku menuju ke dalam. Tangannya memberitahuku untuk mengikutinya. Aku mengekor saja tanpa peduli sekitar. Anya sampai di depan kamarku. Di belakangku sudah ada mama, papa, beserta keluarga Anya. Mama dan papa menatap emosi. Papa melewatiku dan mengeluarkan kunci cadangan kamarku dan membukanya. Ah ! Aku benar-benar tidak dia anggap disini. Mama lari menuju kamar. Siapa sangka mama begitu saja berteriak kencang sambil menutup mulutnya. Papa ikut masuk dan memeluk mama yang histeris. Drama macam apa ini ?

“Ayo kakak juga masuk. Kita pulang !” kata Anya dengan wajah polosnya. Aku mengangguk mengiyakan. Lagi pula aku juga penasaran apa yang terjadi didalam.

Wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar. Busa di mulutnya masih samar membekas. Wajahnya pucat pasi. Mulutnya menganga mengenaskan. Dan buruknya lagi dia adalah aku.

“Nay ! Jangan tinggalkan mama Nay ! maafkan mama dan papa Nay,” wanita paruh baya itu menggoyangkan  tubuh kaku di hadapannya.

“Bagaimana kalian bisa tahu ?” Tanya papa emosi pada kedua orang tua Anya.

“Anak kami adalah seorang indigo. Dia bisa melihat seorang yang tidak hidup anak kami merasa kasihan  pada Nayla karena selain broken home Nayla adalah korban bunuh diri yang bahkan tidak sadar akan keadaanya,”

Senin, 05 Desember 2016

Iklan adalah informasi yang isinya membujuk khalayak banyak atau orang banyak supaya tertarik kepada barang atau jasa yang ditawarkan.
Ada berbagai jenis iklan yang ada di masyarakat, salah satunya yaitu iklan layanan masyarakat, seperti iklan yang saya posting di atas. Tujuan dari iklan tersebut yaitu untuk mengajak masyarakat agar tidak menyentuh dan menggunakan obat-obatan terlarang atau narkoba.
Makna dari iklan tersebut adalah:
- mengajak untuk tidak menggunakan narkoba
- arti dari tangan adalah untuk tidak menyentuh narkoba
- arti dari jarum suntik adalah untuk tidak menggunakan narkoba

Kamis, 24 November 2016

Teks Berita

Senin (14/11) MPK SMAN 2 Magelang mengadakan pemilu dalam rangka pemilihan ketua OSIS SMAN 2 Magelang yang baru periode 2016/2017. Adapun calonnya dari kelas XI IPA maupun IPS, yaitu nomor urut satu Ikhlasul Amal, nomor dua Purbo Listyo, dan nomor 3 Aldi Sahara Rusli. Acara dilaksanakan di lapangan basket SMAN 2 Magelang.
Acara pemilu “Pemilos” dimulai sekitar pukul 10.30 WIB. Dalam acara pemilu tersebut, yang pertama memilih adalah Bapak/Ibu guru, staf karyawan, dan ibu kantin. Ada 20 bilik untuk mencoblos sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengantri. Proses pemilihan dilakukan per kelas secara bergilir yang dimulai dari kelas  XII, XI, dan yang terakhir kelas X. Kelas XII mendapatkan kloter jam ke-7 atau sekitar jam 12.30 WIB. Pada saat akan memasuki lapangan basket, para siswa harus antri terlebih dahulu, kemudian masuk per 10 orang agar tidak berdesak-desakan. Sebelum mencoblos para siswa diharuskan absen terlebih dahulu. Setelah itu,baru diperbolehkan untuk mencoblos calon ketua OSIS sesuai dengan yang mereka idolakan. Panitia menyediakan tempat untuk berfoto sehingga acara berlangsung semakin ramai dan meriah. Acara selesai sekitar pukul 13.45 WIB.



Sepulang sekolah MPK juga mengadakan perhitungan suara sekaligus. Agar segera didapatkan nama ketua OSIS yang baru. Poses perhitungan suara dihadiri oleh setiap perwakilan kelas. Dengan adanya setiap perwakilan, diharapkan dapat menjadi saksi dalam hal perhitungan suara. Setelah beberapa menit berlalu, muncullah jumlah suara yang diperoleh dari tiap-tiap kandidat. Nomor urut satu mendapatkan jumlah suara 425. Nomor urut dua mendapatkan jumlah suara 108. Dan yang terakhir nomor urut tiga mendapatkan jumlah suara 88. Dengan hasil seperti itu, sudah sangat jelas yang memenangkan pemilu kali ini adalah Ikhlasul Amal.

Acara pemilu tersebut berlangsung  tertib dan seluruh warga SMAN 2 Magelang sangat berantusias mengikuti pemilu yang diadakan oleh MPK SMAN 2 Magelang. Harapan saya semoga calon ketua OSIS yang baru dapat menjadikan SMAN 2 Magelang menjadi sekolah yang lebih maju lagi dari sekarang, “ujar Yanuartika salah satu panitia dari acara tersebut.

teks sejarah

SOSOK INSPIRATIF




Seorang ayah merupakan sosok pemimpin yang berada dalam sebuah keluarga. Sosok ayah yang selalu menjadi panutan untuk anak-anaknya. Beliau yang mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya. Sosok yang selalu aku banggakan, beliau adalah ayah saya “Salamudin”. Salamudin dilahirkan pada tanggal 7 April 1961 di Bira, Kota Ujung Pandang, Makassar. Beliau anak tunggal dari Aha Jawang dan Sattu. Beliau asli keturunan Suku Bugis.
Salamudin bersekolah di SDN No. 116 di Bira. Beliau tergolong anak yang sangat nakal. Walaupun demikian, Salamudin selalu prihatin dan rajin belajar. Khususnya dalam bidang matematika, beliau sangat teliti dan mahir. Hasilnya dapat dilihat dalam ijazah SD beliau yang nilainya diatas rata-rata. Setelah itu, beliau bersekolah di SMP Negeri di Bira. Karena ada beberapa faktor yang kurang mendukung beliau untuk melanjutkan sekolahnya. Beliau hanya bersekolah sampai SMP saja. Setelah lulus SMP, beliau sering membantu masyarakat sekitar untuk membuat kapal. Karena kebanyakan masyarakat Makassar mahir dalam membuat kapal. Lambat laun, beliau ditawarkan untuk bekerja di sebuah kapal barang. Beliau sangat pekerja keras sehingga beliau diangkat menjadi kapten kapal tersebut. Walaupun hanya sebatas pelayaran antar pulau.
Pada saat beliau ditugaskan untuk berlayar menuju Pelabuhan Semarang. Ada salah satu teman beliau yang mengajak Salamudin untuk mengunjungi rumahnya yang berada di daerah Magelang. Saat itu pun beliau bertemu dengan seorang wanita. Beliau mulai tertarik dan mendekatinya. Salamudin bertanya kepada temannya tentang wanita tersebut. Dengan keberanian beliau mendekatinya dan berniat untuk melamarnya. Selang beberapa bulan, Salamudin mengajak kedua orang tuanya dan langsung melamar wanita tersebut.
Pada tanggal 24 Januari 1991, Salamudin menikah dengan Siti Rockayah. Setelah menikah, mereka tinggal di Magelang. Kemudian, mereka memutuskan untuk tinggal di Cirebon, Jawa Barat untuk sementara waktu. Dan pada akhirnya mereka menetap di Jln. Singosari Rt:02 Rw:14, Karang Lor, Magelang. Kemudian pada tanggal 20 Januari 1992 anak pertama mereka lahir. Anak yang kedua lahir pada tanggal 2 Desember 1993. Anak ketiga lahir pada tanggal 01 Maret 1999. Dan anak terakhir lahir pada tanggal 11 Juli 2001. Mereka berdua membesarkan anak pertamanya yang bernama Indah di SDN Rejowinangun 2, SMPN 13 Magelang, SMKN 3 Magelang, dan Universitas STIKOM. Anak yang kedua bernama Desi, dia bersekolah di SDN Rejowinangun 5, SMPN 5 Magelang, dan SMKN 3 Magelang. Anak ketiga bernama Shinta, riwayat pendidikannya di SDN Rejowinangun 1, SMPN 12 Magelang, dan saat ini masih bersekolah di SMAN 2 Magelang. Selanjutnya, anak yang terakhir bernama Gabriel. Dia bersekolah di SDN 5 dan saat ini masih bersekolah di MTS Al Iman Magelang.
Salamudin merupakan sosok ayah yang sangat bertanggung jawab. Beliau bekerja keras demi membahagiakan istri dan anak-anaknya. Beliau memberikan kasih sayangnya dengan sepenuh hati tanpa ada yang di beda-bedakan.